Tepat pada 28 Januari kemarin, Alun-alun Merdeka Kota Malang Resmi dibuka kembali setelah proses revitalisasi. Landmark ikonik kota Malang ini merupakan salah satu destinasi favorit yang dikunjungi warga Malang, Apakah kamu sudah kesana? Alun-alun Malang memiliki sejarah dan latar belakang karena telah dibangun sejak masa penjajahan Pemerintahan Belanda. Seperti apa kisahnya? Yuk simak!
Sejarah Alun-alun Merdeka Malang
Mengutip dari (Jenny dan Mutiah, 2018), Malang di tahun 1767 hingga awal 1870 merupakan suatu kabupaten kecil, dengan pusat di lokasi Alun-alun Merdeka. Pusat Kota saat itu berada di Pasuruan. Dulu Alun-alun merdeka hanya sebuah lapangan rumput besar yang berada diantara 4 ruas jalan. Alun-alun ini dibangun setelah adanya beberapa bangunan penting di sekitarnya, yaitu Kantor Asisten residen, Kantor Bupati atau Pendopo, dan Masjid Jami’. Ruang Publik ini pun dibangun pada tahun 1882 dengan menambah pohon-pohon, jalur sirkulasi, dan jalur tram.
Alun-Alun Merdeka dibangun oleh Bupati Malang pertama, yaitu Notodiningrat I. Alun-alun ini dibuat sebagai tanda bahwa Malang sudah dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda. Alun-alun dulu diberi nama JP Coen Plein. Nama dipilih untuk menghormati Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen. Pada 17 Agustus 1946, dibangun tugu untuk memperingati kemerdekaan di alun-alun ini. Sayangnya, tugu tersebut dihancurkan saat agresi militer Belanda I. Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, tugu tersebut dibangun kembali dan pembangunannya selesai pada tahun 1953.
Tidak serupa dengan alun-alun lain di daerah Jogja dan Jawa Tengah. Alun-alun kota Merdeka tidak digunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Alun-alun Merdeka digunakan masyarakat pribumi sebagai tempat berkumpul dan berniaga.Melihat hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan awal pembangunan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai bukti hegemoni kekuasaan. Hal ini kemudian menjadi sebab dibangunnya alun-alun Bunder/Tugu sebagai pusat pemerintahan yang jaraknya tidak jauh dari Alun-alun Merdeka.
Program CSR bersama Bank Jatim
Sempat direvitalisasi di tahun 2015, Alun-alun Merdeka Kota Malang direvitalisasi kembali di tahun 2025/2026 selama 105 Hari yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Malang dengan Program CSR Bank Jatim, dengan total biaya 5 Miliar.
Jika kamu sudah berkunjung ke Alun-alun, akan nampak tata letak dan desain yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Terdapat beberapa tambahan fasilitas baru yang bermanfaat bagi pengunjung seperti stand air siap minum, stand cuci tangan, ruang ibu menyusui, toilet dan penambahan beberapa permainan di playground. Dilansir dari JawaPos Radar Malang, Playground Alun-alun Merdeka direvitalisasi dengan mendatangkan perlengkapan playground dari Malaysia. Itu menjadi satu-satunya barang impor yang berada di area tersebut. Playground yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya, terdiri dari ayunan, perosotan, pagar pembatas area playground, dan pengaman karet untuk menghindari dampak berbahaya bagi anak.
Salah satu objek yang cukup signifikan adalah Air Mancur, yang dulu hanya dapat diakses lihat saja. Kini Dry Fountain tersebut dapat diamati lebih dekat tanpa pagar pembatas. Jika kamu berkunjung ke Alun-alun saat air mancur aktif, akan nampak banyak anak-anak yang bermain air disana.
Mengoptimalkan Peran Alun-alun Merdeka
Alun-alun merupakan ruang publik yang dapat diakses oleh masyarakat umum, tidak terbatas dari status sosial ataupun latar belakang tertentu. Karena hal tersebut, ruang terbuka ini diharapkan dapat memberi manfaat dari berbagai aspek. Alun-alun dapat menjadi sarana memahami pelestarian lingkungan lewat fungsi hidrologis, karena di salah satu sudutnya merupakan resapan air dan ruang terbuka hijau di kota Malang. Ada berbagai manfaat lain dari pembuatan alun-alun malang, seperti:
- Fungsi Ekologis, memelihara flora dan fauna tertentu
- Fungsi Kesehatan, ada banyak oksigen yang diproduksi oleh pohon-pohon rindang tersebut
- Fungsi Olahraga dan Rekreasi, memberi manfaat bagi pengunjung untuk jalan, lari, yoga, dan lainnya
- Fungsi estetika, menjadi ikon unik di suatu kota.
Tidak hanya untuk pengunjung dari warga setempat, Alun-alun Merdeka juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal yang berasal dari luar kota. Ruang Terbuka yang memadai tentu menjadi salah satu alasan wisatawan berkunjung ke Kota Malang, hal ini dapat memberi dampak positif untuk geliat pariwisata di kota Malang dan sekitarnya.
Beli Oleh-oleh di Buah Tangan Kota Batu
Alun-alun jadi salah satu destinasi menarik yang bisa dikunjungi siapapun, jika kamu berkunjung ke Kota Malang, jangan lupa mampir yaa~. Apabila kamu berencana untuk membeli oleh-oleh, beli di Buah Tangan Pusat oleh oleh Batu!. Di Buah Tangan ada produk unik yang wajib kamu coba, yaitu Pie Susu Apel khas Buah Tangan, tersedia dalam berbagai varian, yaitu:
- 🍏 Apel, dengan potongan apel malang Asli!
- 🥛 Original
- 🧀 Keju
- 🍫 Coklat
- 🍃 Matcha
- 🥧 Mix
Bagi anda yang masih bingung untuk membeli oleh-oleh, kunjungi Buah Tangan Pusat Oleh-oleh Batu. Pusat oleh-oleh terlengkap dan nyaman, menyediakan berbagai produk makanan ringan seperti keripik nangka, tempe, dan apel, termasuk bumbu masak khas kota malang batu, seperti rawon. Ada pula, pakaian, dan souvenir khas kota Malang. Tersedia juga daster khas malangan yang cocok untuk oleh-oleh keluarga tersayang.
Buah Tangan adalah salah satu pusat oleh-oleh terdekat yang dapat kamu kunjungi di kota Batu, dengan area strategis yang berdekatan dengan beberapa wahana, seperti Jawa Timur Park, Wisata Edukasi Susu Batu, dan lainnya. Segera kunjungi Buah Tangan Pusat Oleh-oleh Batu!
Produk di pusat oleh-oleh Buah Tangan juga dapat dipesan secara online di Lokapasar Shopee, klik tautan ini
Referensi:
https://www.instagram.com/p/DSjZY4yjKcs/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Mutiah & Ernawati. 2018. Identitas Alun-alun Merdeka sebagai Ruang Publik di Kota Malang. Jurnal Arsitektur. Universitas Brawijaya

Toko oleh-oleh camilan buah yang renyah, higienis, halal khas kota Malang dan Batu dengan Bahan Baku Premium





Discussion about this post